Cerpen - Dataran Nagasaki

 Dataran Nagasaki

Karya: Ilyas Saputra Arsyad

Aku tinggal di Nagasaki pada 1945, dimana saat itu kondisi kehidupan umat manusia tak menentu. Antara hidupmu akan mati esok hari ataupun di hari ini juga. Semua itu tak bisa ditebak dan tak bakal bisa diterka hingga kau bisa menerima fakta bahwa kehidupanmu hanyalah bertahan beberapa jam lagi. Begitupun denganku, aku hidup dimana manusia saling berperang, membunuh satu sama lain, melontarkan meriam kapal dan pesawatnya ditengah kehidupan rakyat yang sedang lelah menunggu kepulangan sang pahlawan dari medan pertempuran. Terkadang harapan itu sirna sampai sahabatku Natsume menerima kebenaran bahwa ayahnya telah tiada dilautan Pasifik, ditelan hantaman meriam dari kapal Amerika yang begitu adikuasa.

Ibuku bekerja di rumah sakit Shima, dia pulang malam hari, bahkan terkadang saat subuh-subuh menjelang pagi. Saat ibuku pulang, adikku yang bernama Kazuo sangat kegirangan mendapati ibuku telah menanggalkan mantel musim hujannya diatas paku yang berkarat. Makan malam selalu dingin dan terkesan redup, ibu selalu menceritakan pengalamannya saat dirumah sakit, saat dirinya melihat selusin manusia yang terluka parah akibat peluru yang bersarang pada tubuh mereka. Tak satupun selamat dari ribuan peluru yang melintas diatas kepala mereka, hujan bom dan segala kengerian perang saat ini tak pernah mereka lupakan hingga ratusan tahun sekalipun.

“Begitu kelam. Tak sepantasnya manusia menerima kengerian seperti ini. Selama aku bekerja dirumah sakit, aku tak pernah menghadapi selusin manusia yang begitu nelangsa, putus asa, dan begitu terpuruk karena telah menyadari bahwa perang seperti ini tak bakal menjanjikan apapun, hanya menghasilkan ledakan, kehancuran, dan murka alam yang tak seorangpun bakal lolos dari mautnya.” Ibuku selalu mengingatkan kepada kami bahwa tak ada manusia yang menginginkan perang seperti ini terjadi, bahkan para pemimpin yang senantiasa duduk disinggasana nya sekalipun.

Bu Horikita, guru sekolahku yang begitu peduli akan nasib umat manusia, dirinya selalu berpidato dikelas sebelum jam pelajaran berakhir. Murid-murid begitu antusias mendengarnya, mereka semua begitu mengagumi sosok Bu Horikita yang begitu menawan dari gaya bicara dan juga tatapan mata sendunya. Dalam retina mata hitamnya itu terlihat kesedihan yang begitu nampak pada dirinya, kesedihan akan masa kini yang begitu kelabu dan nelangsa. Kehidupan di Tokyo ataupun di Osaka tak kalah kelabunya dibandingkan Nagasaki ini, hanya ada wajah muram manusia yang masih terpampang jelas disetiap detik kehidupan.

“Dengarlah anak-anakku yang tercinta. Apakah kalian pernah mengalami dimana kehidupan kalian hanya berjarak satu jari dari kematian yang mengerikan? Jika betul begitu, apa yang bakal kalian lakukan?” tanya Bu Horikita sebelum mengakhiri jam kelasnya itu.

Seseorang mengacungkan tangan, dan dia adalah Nastume, sobatku sedari aku masih berjalan tanpa menggunakan sendal dipekarang hijau rumahku. Dia begitu cerdas, bahkan terbilang terlalu cerdas untuk gadis seusianya. Ayahnya meninggal saat pertempuran Iwo Jima, dan saat mendengar kematian ayahnya, Nastume menjadi nelangsa dan memiliki suatu harapan agar segala perang yang nampak di penjuru dunia bisa berakhir dengan damai tanpa ada pertikaian dan banjir darah untuk kesekian kalinya lagi.

“Jika kematian berada dihadapanku,” Natsume terdiam, wajahnya menggambarkan bahwa otak kecilnya sedang bekerja keras, lalu melanjutkan kalimat ajaibnya. “Aku bakal memohon kepada Tuhan agar kematianku bisa menjadi pengingat umat  manusia bahwa perang memakan orang-orang tak bersalah, tak berdosa, dan lemah.”

Aku pernah mengunjungi Gunung Konpira bersama Nastume, dan pada saat itu dia masihlah seorang gadis periang dengan penuh canda tawa pada setiap obrolan kami. Entah campur tangan apa yang membuat dirinya menjadi pemuram saat mendengar kabar bahwa Kekaisaran Jepang telah menyerang salah satu markas militer Amerika di Pearl Harbor. Aku masih mengingatnya saat Natsume mendengar berita tersebut dirumahku, mendengar lewat radio yang menyiarkan kabar ke semua penjuru dunia, lalu berita selanjutnya disiarkan bahwa Amerika telah menyatakan perang terhadap Kekaisaran Jepang.

Tanggal 9 Agustus 1945, aku masih belajar dan membacai beberapa literatur Kekaisaran Jepang sampai pada akhirnya aku mendengar suara dentuman sangat keras dari pusat Nagaski. Semua teman-temanku terlihat panik, wajah mereka begitu ketakutan. Aliran darah dalam diriku berhenti mengalir sejak tanah yang kupijaki mulai bergoyang hebat seolah bumi dan isinya hendak terbang ke langit hingga terpecah belah menjadi beberapa bagian. Semua itu terjadi secara tiba-tiba, guncangan tanah, dentuman keras, lalu sebuah cahaya yang sangat menyilaukan berwarna kuning oranye membutakan penglihatan dihadapanku. Semua itu sangatlah mengguncang seluruh urat sarafku sampai akhirnya samar-samar aku melihat sebuah awan besar berbentuk jamur yang begitu mengerikan berada persis jauh dihadapanku.

Tuhan, apakah ini? Mengerikan sekali. Lalu rumah-rumah, gedung, tempat bermain seorang bocah kecil, hingga bayi yang digendong ibunya hangus begitu saja tanpa menyisakan apapun pada kulit mereka. Semuanya pudar bersamaan dengan suara yang sangat keras memusnahkan segalanya disekitar ledakan tersebut, hanya ada satu kalimat dalam jiwaku, “aku akan mati detik ini juga.” Aku tak mampu bergerak, cahaya dan gelombang api itu datang dengan kecepatan yang tak bisa didahului apapun. Semuanya begitu singkat, semuanya begitu kejam, semuanya begitu mengerikan, lalu selanjutnya gelap, aku tak bisa melihat apapun bahkan untuk melihat secercah cahaya kecil yang bisa membuatku senang, setidaknya aku ingin melihat adik dan ibuku yang tersenyum menikmati padang rumput saat musim semi yang menenangkan. Namun, kenyataan itu sangat berbeda. Kini aku menghadapi sebuah monster yang tak pernah umat manusia lihat, yaitu ledakan awan jamur yang menghancurkan segalanya, menghancurkan rumahku, menghancurkan hidupku, dan menghancurkan butiran-butiran emas pada diri manusia yang bakalnya berjasa dimasa depan.

Namun, Tuhan masih memberiku kesempatan untuk dapat hidup dan memandang dunia dengan indahnya. Aku terbangun dan masih hidup, menatap kearah depan dengan pandangan yang begitu buram. Puing-puing bangunan yang hancur layaknya batu besar yang terjatuh dari ketinggian seribu kaki terhampar luas dihadapanku. Semuanya rata. Asap mengambang, mengumpul dilangit menutupi cahaya matahari yang terang benderang sehingga membuat langit Nagaski begitu redup akibat jutaan partikel debu yang berterbangan seperti lalat akibat ledakan awan yang datang secara tiba-tiba. Aku tertimpa sebuah kayu dari atap sekolahku, kulitku terkelupas pada setiap inchinya, memberikan rasa perih yang tak terhingga. Itu hanyalah kengerian kecil pada tubuhku, yang lebih mengerikan dari hal itu adalah kotaku yang indah ini, rata dengan tanah seolah tak pernah ada peradaban yang singgah di tanah ini.

Beberapa jam aku menahan sakit, menahan segala kepedihan pada raga dan batinku, lalu selusin manusia datang mengendarai truk-truk militer dan mengangkuti orang-orang yang sudah tak bernyawa dan tak berdaya. Aku dibawa ke sebuah rumah sakit yang belum pernah kulihat sebelumnya, disana hanya ada jeritan manusia dan suara keluhan yang begitu memekakkan telinga. Semuanya mengerikan, tak pernah kuhadapi hari semengerikan ini. Jika kau bertanya kepadaku perihal neraka, maka jawabanku adalah, “aku tak pernah pergi ke neraka dan tak ingin juga, tetapi di hari ini, di detik ini, bumi memperlihatkanku neraka sesungguhnya.”

Bisa dikatakan aku selamat dari kejadian itu, sedangkan ibuku yang berada dirumah dan adikku yang sedang bersekolah menjadi korban dari keganasan awan jamur tersebut. Sahabat-sahabatku seperti Natsume dan guruku Bu Horikita juga tak terselamatkan. Banyak dari sahabatku hangus tak menyisakan kenangan pada diri dan tubuhnya sedikitpun, mereka berubah menjadi abu lalu terbang ke alam yang sungguh berbeda, ke alam dimana para manusia tak saling berperang dan membunuh satu sama lain, dan alam itulah yang kuharap bisa kutempati bersama keluarga tersayangku. Aku diselamatkan oleh keajaiban Tuhan yang begitu mengagumkan, keajaiban ini hanya datang satu dari sekian juta kemungkinan yang ada.

“Berbahagialah, Oetsu. Kau masih diberikan kehidupan oleh Tuhan,” kata dokterku pada suatu pagi sambil membawakanku sarapan.

“Bagaimana caranya aku berbahagia jika aku mendapati seluruh kerabat, keluarga, bahkan guru-guruku telah tiada? Bahkan aku sempat melihat lusinan manusia mati, mereka mati bukan seperti manusia pada umumnya, tetapi mereka mati dengan kondisi yang sangat mengerikan daripada seorang prajurit yang dihantam peluru.”

Aku mulai merasakan hal aneh pada tubuhku. Gusiku mulai berdarah dan rambutku mulai rontok.  Aku merasa bahwa tubuhku tak mampu menopang setiap tulang yang terikat satu sama lain. Aku begitu lemas dan aneh. Bahkan dokter baik hati yang selalu membawakanku sarapan dan mengecek kondisi tubuhku begitu heran ketika melihat gejala abnormal pada tubuhku. Dokterku berkata bahwa gejala seperti ini juga terjadi kepada korban yang selamat saat awan jamur itu mengamuk. Orang-orangku masih belum mengetahui hal mengerikan apalagi yang mendiami tubuh mereka.

Beberapa minggu berlalu, tubuhku semakin lemas, dan aku sudah tak dapat berbicara. Sepasang mataku gelap, sepasang telingaku tak berfungsi, dan aku merasa setiap kulitku begitu panas sampai-sampai aku teringat tungku api yang pernah kusentuh saat diriku masih kecil. Semuanya mengerikan, bahkan demam terhebat yang pernah singgah dalam diriku kalah jauh dibanding gejala aneh seperti ini. Seorang perawat yang begitu cantik dengan bulu mata lentiknya mendekat kearahku, menatapku sebentar dengan rasa iba yang luar biasa. “O, jangan menatapku seperti itu, aku merasa putus asa sekarang,” gumamku kecil, tak terdengar oleh siapapun.

Terdengar samar-samar tetapi sering diulang, kata “Radiasi.” Selalu saja keluar dari mulut mereka, tapi aku tak mengetahui apa itu Radiasi dan semoga saja tak membuatku mati. Namun dunia mengkhianatiku, dan Tuhan sudah menyudahi keajaiban yang diberikannya kepadaku. Ini adalah pengingat bagi manusia, pengingat semesta dan juga para pemimpin yang hendak mengibarkan bendera perangnya. Inilah wajah dari perang sesungguhnya! Tak ada yang diuntungkan! Yang ada hanyalah kematian para gadis biasa sepertiku atau pada adikku yang baru saja bisa menulis, dan pada ibuku yang begitu berjasa karena telah merawat ratusan korban perang, bahkan Papaku yang diberi gelar Pahlawan Berjasa pun harus mati karena berondongan peluru yang datang tanpa kenal ampun. Kini, diriku, harus mati karena paparan radiasi.

Dua hari kemudian, semuanya gelap, tak satupun seseorang yang kusayang berada disisiku. Hanya ada secangkir gelas dan sebuah akuarium kecil berisi seekor ikan kecil yang menemaniku. Napasku mulai tersendat, dan pikiranku sudah bisa dikatakan mati. Kini aku bisa merasai bagaimana sekarat dan bagaimana rasanya menjadi korban perang, korban atas perlakuan manusia yang menumpas segalanya demi kemenangan pada pihaknya. Selamat tinggal bumi, selamat tinggal Nagasaki, dan selamat tinggal Negeri Sakura yang kucintai ini, aku tak bakal kembali jika Tuhan yang kucintai tak mengizinkanku.

Komentar

Postingan Populer